Jakarta — Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan perhatian khusus terhadap tren kenaikan harga komoditas pangan menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru). Salah satu komoditas yang menjadi sorotan utama adalah cabai, yang harganya tercatat melonjak tajam hingga mendekati harga daging di sejumlah pasar tradisional.
Faktor Penyebab dan Ancaman Inflasi
Destry menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan, khususnya cabai, menjadi faktor signifikan yang memberikan tekanan terhadap inflasi nasional. Berdasarkan pantauan di lapangan, dinamika harga ini dipicu oleh beberapa tantangan utama:
- Adanya kendala dalam distribusi logistik pangan menjelang libur panjang.
- Faktor cuaca yang berdampak pada penurunan produktivitas di sentra-sentra produksi pertanian.
- Kesenjangan pasokan dan permintaan yang meningkat di momen akhir tahun.
Pentingnya Koordinasi Antar-Lembaga
Menanggapi situasi ini, pihak Bank Indonesia menekankan perlunya koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Destry menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor sangat krusial untuk memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga dan harga di tingkat konsumen kembali stabil.
“Kami mendorong percepatan distribusi dan operasi pasar yang efektif agar lonjakan harga tidak berlarut-larut. Stabilitas pangan merupakan fondasi penting dalam menjaga daya beli masyarakat selama masa transisi akhir tahun,” ungkap Destry dalam pernyataan resminya.
Bank Indonesia terus memantau perkembangan harga di berbagai wilayah guna mengantisipasi risiko inflasi lebih lanjut yang berpotensi menghambat pemulihan ekonomi nasional.





